Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Apa yang Terjadi Jika Superman Nyalon Gubernur Jakarta?

Apa yang Terjadi Jika Superman Nyalon Gubernur Jakarta?


            Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar kata Superman? Tokoh fiksi buatan DC Comic? Pahlawan yang memakai sempak di luar?–merah terang lagi. Ya, apapun jawaban kamu, kita memiliki gambaran dan pertanyaan yang sama.

Bagaimana mungkin umat manusia begitu lelah sampai tidak mengetahui identitas Superman. Padahal jelas-jelas dia tidak memakai topeng layaknya manusia kelelawar maupun Flash. Benar-benar misterius.

Terlepas dari semua itu, kita harus mengakui jika Superman termasuk golongan ‘sperma yang beruntung’. Bagaimana tidak? Coba kisanak bayangkan, apa jadinya jika Superman lahir di Bumi dan dikirim ke planet Crypton? Atau pesawatnya terkena meteor dan terdampar di Mars?

Tentu cerita di komiknya akan berubah, bahkan tanpa perlu menunggu Negara Api menyerang. Kemungkinan besar Superman menjadi penduduk biasa di Crypton atau menunggu jemputan pesawat Elon Musk di Mars.

Lalu bagaimana dengan nasib bumi? Mungkin planet ini telah jadi ajang syuting film Alien vs Predator terbaru, atau musnah gara-gara Donald Trump. Namun yang jelas, mungkin hanya Tuhan yang tahu.

Oleh karena itu, marilah kita bayangkan peristiwa yang lebih baik, seperti pesawat Superman mendarat di Jakarta, bukan di Amerika. Nah, kira-kira apa yang akan terjadi?

Pertama jelas nama Superman akan berubah. Kemungkinan besar ia akan diberi nama Suparman. Pakai ‘A’ bukan ‘E’. Nama panggilannya bisa Parman atau Maman. Bisa juga dia menggunakan nama panggung seperti Charlie, Richard, atau diedit dikit menjadi Superman. Pokoknya yang berbau kebarat-baratan. Karena ini lagi ngetrend di Indonesia.

            Kedua, Superman memiliki hak politik untuk memilih dan dipilih. Karena kebetulan ia terdampar di ibukota, maka ia punya hak untuk nyalon jadi Gubernur Jakarta. Seperti yang kisanak ketahui, calon gubernur Jakarta ada tiga orang yaitu Agus, Ahok, dan Anies.

            Bayangkan jika Superman ikut berpartisipasi menjadi calon keempat. Tentu bakal lebih panas lagi. Lalu siap calon wakil gubernurnya? Sampai saat ini tercatat beberapa nama superhero asli Indonesia yang memiliki potensi. Beberapa di antaranya yakni:

            1. Wiro Sableng.

Pendekar Kapak Naga Geni 212 ini memiliki elektabilitas yang cukup tinggi. Mengingat aksi Bela Islam yang dihadiri 7,5 juta orang –kata FPI- mencatut ikon 212 yang identik dengan dirinya.
           
Kelebihan utama Wiro yaitu sangat ramah dan suka tertawa. Bertolak belakang dengan karakter Ahok yang suka marah-marah. Sayangnya murid Shinto Gedheng ini kemungkinan besar tidak akan lolos tes kesehatan yang digelar KPU. Ya, namanya juga sableng kan?

            2. Sarah 008

Sarah 008 bisa jadi pilihan yang bagus. Keberadaannya bisa menarik dukungan perempuan. Lawan yang bagus untuk Sylvi. Cuma setelah Mister Black dikalahkan, Sarah 008 sudah tidak muncul lagi di televisi. Akibatnya elektabilitas Sarah merosot tajam.

            3. Si Buta dari Gua Hantu

Elektablitias superhero ini sebelas dua belas dengan Sarah 008. Namun elektabilitasnya diyakini dapat melonjak pesat berkat Kliwon, monyet kesayangannya. Berkatnya, si Buta dari Gua Hantu bisa menyajikan Topeng Monyet sebagai sarana kampanyenya.

Selain itu, kekurangan fisik si Buta dari Gua Hantu bisa dimanfaatkan untuk mencuri simpati rakyat. Benar-benar calon wakil gubernur yang berpotensi tinggi.

            4. Gundala Putra Petir

Superhero yang satu ini sebenarnya cocok digandengkan bersama Superman. Pasalnya kostum yang dia kenakan mirip dengan man of steel (baca; sempak merah di luar). Namun apa daya Gundala telah mengutarakan penolakannya.

Ia beralasan tengah fokus menggarap (konon) film terbarunya bersama Hanung. Selain itu, ia juga tengah dikontrak menjadi pembangkit listrik oleh PLN. Sayang banget.

             Ketiga adalah serangan politik yang akan ditembakan ke Superman saat nyalon. Serangan yang paling jelas adalah isu Superman bukanlah pribumi (penduduk asli planet bumi) dan pornoaksi-ingat sempaknya dipakai di luar.

            Menghadapi isu SARA seperti ini tentu bukan perkara mudah, tapi juga bukan hal yang mutahil. Salah satu cara meredamnya yakni dengan menggandeng sejumlah tokoh asli Indonesia seperti si Unyil, Bolang, hingga para Punakawan sebagai juru kampanye. Nantinya mereka akan diminta untuk menyebarluaskan isu bhineka tunggal ika dan toleransi.

            Sedangkan untuk isu pornoaksi sudah berhasil diredam sejak lama. Jika kamu nonton film Superman terbaru di bioskop, tentu kamu akan mengetahuinya; jika Superman tidak lagi memakai sempak merah di luar.

            Ini merupakan langkah cantik nan ciamik untuk menghilangkan stigma tidak senonoh yang melekat pada dirinya. Sekaligus memberikan skakmat untuk lawan-lawan politiknya di Jakarta.

            Kemungkinan yang terakhir yaitu siapakah yang akan melindungi Bumi dari para villain ketika Superman gantung jubah? Masa sih, dia harus pergi ke Amerika untuk melawan Doomday ketika tengah rapat APBD bareng DPRD? Terus pembahasan anggarannya gimana?

            Benar-benar pelik. Mungkin memang Superman tidak perlu pensiun jadi Superhero cuma buat jadi gubernur. Tapi nanti bisa dibilang gak profesional sama Jokowi.

            Paling tidak itulah hal-hal yang akan terjadi ketika Superman nyalon jadi Gubernur Jakarta. Apakah dia bakal menang atau tidak itu perkara lain. Satu hal yang pasti, jika kursi gubernur bisa direbut, selanjutnya tinggal Istana Merdeka. SUPERMAN FOR R1!


Ditulis oleh: Lebowski; Sumber gambar: JD Hancock

Kisah dari Planet Asing

Kisah dari Planet Asing


Once upon a time, tersebutlah sebuah planet yang amat jauh dari Bumi. Saking jauhnya, tidak ada pengggaris yang mampu mengukurnya. Jangan heran jika teleskop secanggih apapun juga tidak mampu mendeteksi planet tersebut. Hanya melalui terawangan Ki Joko Bodho saja planet itu dapat dilihat.

Selain sukar ditemukan, planet tersebut juga memiliki bentuk yang anti mainstream; Kotak. Bahkan tidak ditemukan tanda-tanda kemiripan dengan tahu bulat. Mungkin gara-gara tidak digoreng dadakan.

Bisa kamu bayangkan betapa kerennya planet tersebut? Gak bisa bayangin? Contoh berikut mungkin bisa sedikit membantu.

Salah satu contoh betapa cool-nya planet tersebut yaitu jokes garing dari Planet Bumi  tentang jombloers, “Tenang aja, di sudut bumi ini masih ada kok yang bisa menerima kamu dan mencintaimu apa adanya, namun sayangnya bumi itu bulat,” - tidak berlaku.

Karena jelas-jelas planet tersebut berbentuk KOTAK. Artinya ada empat sudut yang dapat ditemukan. Jadi buat jombloers, berkemaslah dan segera pindah kewarganegaraan ke Amerika Serikat. Karna barangkali NASA mau mengekspor kaum jomblo ke planet kotak tersebut. Ingat, sekarang Trump presidennya. Bisa saja program ekspor jomblo masuk ke daftar prioritas Amerika tahun depan.

Planet kotak tersebut juga punya nama. Namanya -setelah penulis berkonsultasi dengan berbagai dukun, mulai dari dukun santet, dukun bayi sampai dukun cabul- yaitu Planet %$*^.  Seperti halnya Planet Bumi, planet tersebut juga berpenghuni.

Planet %$*^ dihuni oleh makhluk cerdas bernama CusCus! atau M(^%&$. Rupa CusCus! juga tidak semengerikan bayangan alien di film-film barat. Tubuh CusCus! Bulat (sebulat tahu) dengan sepasang kaki dan tangan yang ramping. Kulit mereka berwarna hijau cerah.

Kisah dari Planet Asing


Untuk kebutuhan komunukasi, CusCus! menggunakan bahasa MMM, bahasa yang paling sulit dan rumit yang ada di alam semesta. Karena tidak ada konsonan dan aturan tata bahasa. Benar-benar bebas. Tidak heran jika CusCus! tidak mengerti apa yang dikatakan oleh CusCus! lain.

Itulah kenapa debat tidak penting dan perang tidak pernah terjadi. Planet %$*^ selalu diliputi kedamaian. Tidak ada perselisihan, bahkan tidak ada gossip-smakin digosok semakin sip-. Istilahnya gemah ripah loh jinawi.

Hebatnya, di sana juga tidak ada sekolah, universitas TK, Paud dan semacamnya. Pokoknya yang berbau tempat khusus untuk menuntut ilmu itu tidak ada. Alasanya? Karena setiap CusCus! itu cerdas sejak lahir.

Jadi keberadaan sekolah merupakan penghinaan atas kecerdasan mereka. Sebagai bukti kecerdasaan mereka, setiap CusCus! diberikan gelar %R^&ruyr atau setara profesor di Planet Bumi.  

Lalu bagaimana caranya mereka bertahan hidup? Hidup berarti membicarakan dua persoalan, makan dan beregenerasi. Makanan CusCus sangat unik. Mereka hanya makan bakteri dan virus. Itulah kenapa mereka jarang mandi. Tujuannya jelas, agar tubuh mereka menjadi sarang bakteri.

CusCus! beregenerasi dengan cara membelah diri. Mirip Protozoa. Namun CusCus! tidak bisa seenaknya membelah diri, karena bisa mengakibatkan ledakan penduduk. Mereka sangat ketat soal aturan ini. Jangan Planet %$*^ overload penduduk seperti Planet Bumi gara-gara penduduknya tidak ikutan program KB.

Dalam aturan itu, mereka hanya diperbolehkan membelah diri sebanyak satu kali seumur hidup. Dan anaknya, baru boleh membelah diri ketika orang tua mereka mati. Sayangnya umur CusCus sendiri sangat lama. Bisa ribuan tahun. Oleh karena itu, mereka jarang membelah diri. Inilah alasan kenapa Planet %$*^ tidak seramai Jakarta.

Untuk mengatasi rasa bosan, CusCus! gemar travelling ke planet-planet yang ada di alam semesta. Salah satunya ke Bumi yang ada di Galaksi Bima Sakti. Mereka menggunakan pesawat khusus untuk sampai kemari. Ukurannya kecil, sebesar biji buah Salak.

Jadi kalau kamu tiba-tiba kejatuhan biji Salak di jalan, hati-hati saja. Mungkin itu bukanlah biji, tapi pesawat luar angkasa milik CusCus! Mulailah waspda dengan hal-hal di sekitarmu.

Setiap mampir ke Bumi, mereka selalu menyempatkan diri pergi ke koloni CusCus!. Letaknya di atap Istana Merdeka. Tepatnya di atap kamar tidur Paduka Jang Mulia (PJM) Jokowi -saya curiga jika Jokowi itu robotyang dikendalikan CusCus!. Itulah kenapa sampai sekarang tidak ada orang yang mampu menemukan alien di Bumi.

Bukan karena teknologi kita kurang canggih, atau alien itu cuma mitos. Namun karena mereka dijaga Paspampres. Siap-siap saja ditembak Paspampres kalo berani datang ke koloni CusCus!.

Ini merupakan bukti kecerdasan CusCus! Mereka dengan ciamik mengadopsi slogan Freemason, ‘pilihlah tempat yang paling tidak masuk akal untuk menyembunyikan sesuatu’. Fakta ini juga baru penulis ketahui lewat wangsit kemarin malam.

Lalu apa yang mereka lakukan sewaktu di Bumi? Jelas travelling. Wong di atas juga sudah ditulis kok. Di Bumi, CusCus! selalu jalan-jalan ke berbagai tempat wisata sekaligus mencoba kuliner khas setempat (baca: bakteri orang Indonesia). Soal ini, mungkin lain kali penulis ceritakan.

Itulah cerita singkat mengenai Planet %$*^ dan sepak terjang penduduknya. Karena penulis baik, kisah ini tidak ditulis dalam bahasa ‘MMM’ CusCus!. Bye.

Ditulis oleh: Lebowski ; Sumber gambar: Pascal dan Antonio Hidalgo

Sepenggal Kisah Perjalananku

Sepenggal Kisah Perjalananku


Angin menggerakan tubuhku yang menempel, meniup lembut aku dan teman-temanku yang hijau. Menjatuhkan mereka yang terlebih dahulu ada, yang telah lebih lama menikmati dunia ini. Berkas-berkas cahaya terkadang menembus kerumunan kami, tampak seperti pilar-pilar kokoh yang terpancang kuat di tanah, seakan menyangga langit yang bisa  runtuh kapan saja. Dan sewaktu gulita datang bersama malam, kami beristirahat sejenak setelah membuat suplai makanan seharian. Ketika rembulan berpendar, memancarkan cahaya lembut keperakan, tubuh-tubuh kami akan berkilau merefleksikan selagi berdansa bersama aliran udara.

Hmm lalu, siapa kiranya aku ini?

Aku hanya sehelai daun lonjong yang beranjak uzur, dari sebuah pohon yang berumur puluhan tahun, tepatnya aku tak tahu berapa. Mungkin 30 tahun? 40 kah? Entahlah, karna tingginya yang mencapai 21 meter.

Beringin, julukan yang disematkan pada induk pohonku, ada pula yang memanggilnya caringin,  yang lain ringin, bahkan bahasa yang lebih sulitpun ada, Ficus benjamina, tetapi tetap mengacu pada pohon besar yang keluar akarnya dari sela-sela batang. Entah kenapa  mereka  menamakannya begitu, mereka yang mengeklaim berakal, yang sering memperebutkan helaian olahan pohon, manusia.

Begitu damai ku kira kehidupan ini,mengikuti alunan alam membawa kita kepada keseimbangan. Daun seperti ku hanya mengikuti kemauan alam, tidak memaksa alam tunduk kepada kita, sebagai makhluk yang bernaung kepadanya.

Sepi dan hening, lokasi tempat induk pohonku berada, hanya sesekali sekelompok manusia datang ke tempatku, menggali lubang dan uhmm menanam(?) sesamanya mungkin,aku tak tau namanya. Karna yang kulihat adalah sebuah buntelan putih yang dimasukan ke lobang galian. Kemudia mereka mengelilingi saudaranya yang sudah tertutup tanah, sambil memanjatkan doa kepada Gusti Kang Gawe Urip (Sang Pembuat Kehidupan).

“Hei, ku lihat kau melamun sejak tadi? Memangnya ada apa?”

Ku tengok sebelahku, oh ternyata si kuning, dia jauh lebih tua dariku dan sedikit lebih panjang, sekitar 5 cm-an. Seperti  namanya, ia daun yang berwarna kuning, karna klorofil di tubuhnya mulai hilang.

“Aku hanya kepikiran kelakuan manusia, yang sering duduk dan berbicara pada kita, tiap malam tertentu” aku menghirup karbondioksida dari stomata di tubuhku, ”sambil membawa aneka bunga yang berbau wangi”.

“Yah dan juga bisik-bisik para perempuan setengah baya kepada anaknya, agar jangan dekati kita, karna konon ada yang suka nongkrong di dahan kita tiap malam, hahaha”.

“Hahaha bisa saja kau ning”, ujarku menambahkan, ”Yang seperti itu kan sudah ga ada lagi, sekarang mereka lebih suka melekat di diskotik, kalo tidak di gedung yang katanya punya rakyat.”

"Dan cerita itu pun bernasib sama, dianggap lalu di era moderm ini"

WUUUSSHH

Hembusan angin menerpa tubuh kami, gemerisik bunyinya, ketika tubuh kami saling bergesekan. Menghentikan sejenak obrolan kami yang mulai larut.

Ya, benar yang dikatakan si Kuning, cerita-cerita yang menyelubungi pohon-pohon besar mulai tergerus waktu. Dahulu sedikit sekali orang yang berani mengusik keberadaan pohon-pohon besar, takut kualat, takut kena kutuk dan pamali. Aku mulai menyadari cerita-cerita itulah yang menjaga eksistensi alam dari pengrusakan oleh makhluk berbudi.

****

Tubuhku melayang melintasi atas bumi. Kesana kemari tanpa mengikuti kata hati, hanya aliran angin yang menjadi haluan. Benda-benda aneh berulang kali tertangkap oleh pandanganku, mulai dari sesuatu seperti pohon yang berdiri dari kumpulan ranting sewarna darah, dan ketika malam nyala api muncul dari puncaknya, kerlap-kerlip seakan tertiup angin malam.

Ada lagi hewan kubus yang berseliweran sambil menggeram, coraknya melebihi pelangi yang hanya tujuh. Bahkan ketika gulita telah meyelimuti segalanya, berkas cahaya memancar dari matanya yang laksana senthir. Benar-benar mengagumkan! Entah berapa kali aku harus berdecak kagum, melihat hal-hal yang tak lumrah aku temui.

Sepenggal Kisah Perjalananku


Ya, sekarang aku telah berkelana, sudah beberapa hari aku tak menempel lagi di dahan, yang memberi keteduhan bagi tiap-tiap yang ingin melepas lelah.

Tunggu tunggu...Aku belum setua itu sampai rontok, walaupun tubuhku sudah banyak kehilangan klorofil. Lalu bagaimana bisa aku seperti ini, seperti yang terlintas di pikiranmu sekarang ini?

Indukku telah diambrukan, dimutilasi menjadi potongan-potongan yang mati. Aku tak tahu nasibnya sekarang, apakah berakhir menjadi bahan pembakaran di tungku orang-orang desa atau menjelma menjadi bermacam kerajinan. Tapi yang jelas tidak sama nasibnya, dengan pohon Sengon, Pinus, Meranti, ataupun Jabon. Menjadi helaian tempat tercetaknya rangkaian tinta, yang memberi pengetahuan pada para cendekiawan. Menganugerahkan intelejensi untuk melawan kediktatoran penguasa ketika proses pembelajaran, namun pada akhirnya akan menindas kaum papa, ketika mereka telah mendekap dengan eratnya jabatan dunia.

Mereka kemudian memisahkan kami, dedaunan, dari batang-batang beringin, mencampakan kami seperti tak berguna lagi. Meninggalkan kami yang menggunung, berserak di tanah pemakaman. Hanya angin yang belum enggan, menghamburkan kami, membawanya menembus fantasi yang tidak pernah berani tuk termimpi. Dialah yang dengan berani mengajakku untuk melihat dunia sekarang ini, menjejalkan tingkah dan polahnya akal manusia kepadaku.

TUK

Aku mendarat di tepi sungai hitam yang tak berair, nampak banyak hewan kubus berderet, seperti semut-semut yang biasa berjalan di ranting-ranting, diantara bergelantungnya akar ringin. Disisi lainnya tampak manusia berjalan dengan terburu-buru seakan mengejar sang kala yang tlah berlalu. Dengan pakaian aneka rupa, serta bermacam warna, dan tak lupa model rambut yang berbeda. Sedikit terperangah membungkus perasaanku saat ini.

DIIIINNN DDIIIIIINNNN

Suara lolongan dari hewan kubus, membuyarkan lamunanku. Hewan kubus itu berhenti, membuat alur panjang di sungai hitam itu. Dari dalamya menjulur kepala manusia, marah dari ekspresinya yang kutangkap. Sungguh mengherankan. Semut-semut saja ketika jalannya tertutup jatuhnya kami, mereka tidak saling mengerutkan wajah. Mereka dengan perlahan memutari kami, kemudian melanjutkan kembali perjalanan yang tertunda.

SREEK SREEEK SREEEK

Auw, tiba-tiba tubuhku dilemparkan tanpa aba-aba, oleh rangkaian batang-batang lurus yang tersusun rapi, diayunkan oleh tangan yang termakan usia, seorang manusia yang sudah uzur. Ukh pandanganku seakan berputar-putar. Masih terlihat gerombolan awan melekat di langit biru, tak lama, yang terlihat hanya gelap. Sesuatu menutupi tubuhku.

****

Gluduk Gluduk Gluduk

Gelap. Tak nampak apapun, kecuali gumpalan hitam pekat yang menutupi pandanganku. Aneh, perasaanku tadi semuanya nampak baik-baik saja. Kemana larinya cahaya yang memenuhi muka bumi? Apakah sekarang Bathara Kala sudah melampiaskan amarahnya pada Sang Surya? Dendam yang berkobar membuatnya ingin melahap matahari, dan sekarang adalah waktu itu semua terjadi?

Gluduk Gluduk Gluduk

Gempa bumi? Tempat pijakku bergetar, tubuhku terdorong kiri kanan, terkadang atas bawah, seperti dilontarkan meriam. Dalam perut kegelapan ini, bumi tak mau berhenti bergetar. Hmmm apakah dia merasa sedih, karna sang surya telah tiada?

Gluduk Gluduk Gluduk Ciiiiiiitttttttttt

Diam. Aneh tiba-tiba semuanya berhenti, sepi lebih tepatnya sunyi. Seakan waktu dihentikan oleh tangan yang tak terlihat.

SREEEEK BUUUKK SREEEK BUUUUKKK

Woahh suara apa lagi itu? Kedengarannya seperti makhluk  yang menyeramkan. Apa jangan-jangan itu suara Bathara Kala?

SREEEEEEKKK WUNNNGGGG

Uuaahhhhh tiba-tiba aku dilempar!

PLASH

Berkas sinar matahari menghantam tubuhku yang berada di awang-awang, ternyata Sang Surya masih utuh, seperti kuning telur burung, bulat dan kuning keemasan coraknya. Agaknya dia berhasil menyelamatkan diri dari Bathara Kala. Sepoi-sepoi angin memberiku jalan, diantara serakan benda yang mulai turun ke bumi. Tubuhku yang semakin ringkih nampaknya bukan hal yang berat untuk ditarik oleh kuatnya lengan angin.

Tubuhku semakin membumbung, seakan mencoba meraih birunya langit, menyadarkanku akan keberadaanku. Sepertinya aku sudah tidak berada di dunia, aku bisa melihat aneka ragam warna tanah, merah, kuning, hijau, kadang belang hitam putih, dan ada juga yang tampak seperti sapi, dan banyak lagi, tak berwarna coklat kehitaman seperti tempatku berada dulu. Disana-sini aku bisa memandang gundukan bukit berderet-deret, masih melebihi indahnya guratan warna pelangi, berkilau memantulkan cahaya matahari seperti air. Semakin tinggi ku terbang, merayapi bukit-bukit itu, terus lebih tinggi lagi, hingga bisa kusaksikan sekelilingku dengan jelas.

Aku bisa melihat manusia dengan sesuatu seperti gunung, dengan puncak lancip, di kepala mereka, memegang tongkat dengan ujung lengkung. Sesekali mereka mengambil sesuatu diantara tanah, lalu memasukannya ke dalam kantung.  Kucoba lebih memincingkan penglihatanku, oohhhh ternyata mereka mengambil benda tabung transparan, terkadang ada yang bentuknya besar, adapula yang kecil. Mereka lakukan hal itu terus menerus, berjalan kesana kemari mencari benda tembus pandang itu.

Jangan-jangan itu kristalisasi roh makhluk hidup?!, dan mereka itu malaikat yang sedang menyeleksi pantas tidakkah makhluk itu untuk memasuki surga?! Mungkin besar kecilnya tabung transparan itu adalah representasi dari amalan yang dikerjakannya di dunia, semasa mereka hidup. Dan aku sekarang mungkin ada di depan perhitungan Sang Khalik.

Angin mulai lelah membawaku, perlahan ia menurunkan tubuhku di atas bukit. Matahari yang nampak agung tadinya, mulai mengecil seirings jatuhnya aku.

TUK

Aku mendarat mulus di bumi, yang kukira tanah yang berwrna-warni,  sekarang seperti kumpulan benda tipis yang memenuhi permukaan tanah, saling menumpuk diri hingga meninggi. Hmm benda apakah itu kiranya? Belum pernah kutemui di pemakaman, tempat induk beringinku hidup. Sebenarnya aku dimana??!!!

Sumber gambar: Lane Sane dan Theophilos Papadopoulos.